Pemimpin Iran sebut tidak akan penuhi harapan AS terkait nuklir

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa Iran tidak akan memenuhi harapan Amerika Serikat terkait program nuklirnya. Pernyataan ini mencerminkan penolakan Iran terhadap tekanan yang diberikan oleh AS, terutama mengenai pembatasan kemampuan nuklir dan pertahanan negara tersebut.

Khamenei menyebutkan bahwa beberapa pemerintah yang “memaksa” berusaha untuk memaksakan kehendak mereka melalui negosiasi yang tidak bertujuan untuk menyelesaikan masalah, tetapi lebih kepada dominasi dan pemaksaan tuntutan baru. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima tuntutan-tuntutan yang melibatkan pembatasan kemampuan pertahanan dan kebijakan luar negeri negara tersebut, seperti yang telah disampaikan oleh AS dan negara-negara Barat.

Selain itu, Khamenei juga mengkritik tuduhan dari negara-negara Eropa yang menyatakan bahwa Iran tidak memenuhi komitmen dalam perjanjian nuklir yang ada. Ia balik bertanya, “Apakah kalian sudah memenuhi komitmen kalian?” Khamenei menggambarkan situasi ini sebagai bentuk ketidakadilan, di mana Iran terus didorong untuk memenuhi persyaratan yang tidak seimbang.

Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS masih berharap untuk bernegosiasi mengenai kesepakatan nuklir baru dengan Iran, tetapi juga mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer jika diplomasi tidak berhasil. Namun, pejabat Iran, seperti Menteri Luar Negeri Abbas Aragchi, sudah menegaskan bahwa Iran tidak akan bernegosiasi dengan AS selama kebijakan “tekanan maksimum” tetap diterapkan.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, baru-baru ini memberikan sinyal bahwa Iran mungkin akan menolak untuk melanjutkan pembicaraan terkait kesepakatan nuklir baru dengan Amerika Serikat. Dalam pernyataannya melalui media sosial X pada Sabtu (8/3), Khamenei menyatakan bahwa beberapa negara besar, yang ia sebut sebagai “pemerintah pemaksa,” berusaha untuk memaksakan kehendak mereka melalui negosiasi yang tidak bertujuan untuk menyelesaikan masalah, tetapi lebih untuk mendominasi Iran.

Khamenei menegaskan bahwa bagi negara-negara yang memaksa ini, negosiasi hanyalah alat untuk memaksakan tuntutan baru. Ia juga menambahkan bahwa Iran tidak akan memenuhi tuntutan-tuntutan baru yang diajukan, seperti pembatasan kemampuan pertahanan, kebijakan luar negeri, dan bahkan produksi teknologi tertentu. Khamenei menyebutkan bahwa Iran tidak akan menerima batasan pada kemampuan rudalnya atau keputusan untuk tidak melakukan interaksi dengan negara atau individu tertentu.

Pernyataan ini menggambarkan sikap keras Iran terhadap tekanan yang datang dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat terkait program nuklir dan kebijakan pertahanan negara tersebut. Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan tunduk pada upaya pemaksaan dalam negosiasi internasional dan akan terus mempertahankan kedaulatan serta hak-haknya.

Ayatollah Ali Khamenei kembali mengungkapkan ketegasannya terkait tekanan dari negara-negara Barat dalam kesepakatan nuklir dengan Iran. Ia mempertanyakan, “Bagaimana mungkin ada orang yang bisa menerima hal-hal seperti itu?” dalam merespons tuntutan yang diajukan oleh AS dan negara-negara Eropa. Iran, menurut Khamenei, sering kali menolak persyaratan dari kesepakatan nuklir yang gagal karena dirasa tidak adil dan tidak menguntungkan negara mereka.

Khamenei juga mengkritik pihak-pihak Eropa yang terlibat dalam kesepakatan nuklir, yang menuduh Iran tidak memenuhi komitmennya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Ia balik bertanya, “Kalian mengatakan Iran tidak memenuhi komitmen nuklirnya. Baiklah, apakah kalian sudah memenuhi komitmen kalian?” Dengan ini, Khamenei mengisyaratkan bahwa negara-negara Eropa juga belum sepenuhnya memenuhi kewajiban mereka, khususnya dalam hal menghapus sanksi yang diberlakukan setelah AS menarik diri dari JCPOA pada 2018.

Sementara itu, pada 7 Maret, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa masa depan hubungan AS-Iran akan “menarik”, dengan harapan bisa menegosiasikan kesepakatan nuklir baru. Namun, Trump juga mengisyaratkan adanya “pilihan lain” yang mungkin mencakup aksi militer jika diplomasi gagal. Hal ini menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara masih sangat tinggi, dengan Iran yang menolak berbicara di bawah tekanan dan AS yang tetap mempertimbangkan langkah-langkah lebih tegas.

Pada 2018, Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik diri dari Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA), yang sebelumnya telah disepakati pada 2015 antara Iran dan enam negara besar, termasuk AS. Langkah ini memicu ketegangan yang semakin meningkat antara kedua negara, dengan AS kemudian menerapkan kebijakan “tekanan maksimum” melalui sanksi ekonomi yang berat terhadap Iran.

Sebagai respons terhadap kebijakan ini, pejabat tinggi Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Aragchi, menegaskan bahwa mereka tidak akan melanjutkan pembicaraan dengan AS selama kebijakan tekanan dan ancaman berlanjut. Dalam sebuah wawancara di Arab Saudi pada Jumat, Aragchi mengatakan, “Selama kebijakan AS yang memberi tekanan dan ancaman maksimum terus berlanjut, kami tidak akan melakukan negosiasi langsung dengan AS.”

Pernyataan ini menunjukkan tekad Iran untuk tidak tunduk pada kebijakan keras AS dan menegaskan bahwa dialog harus dilakukan dalam kondisi yang adil dan tanpa adanya paksaan atau ancaman. Ketegangan antara Iran dan AS tetap tinggi, dengan kedua negara mempertahankan posisi yang keras terkait masa depan kesepakatan nuklir dan hubungan internasional mereka.

Tinggalkan Balasan